Sepak terjang Tentara Swasta


1. PMC (Private Military Companies)*

*sebutan lain; tentara pembunuh / tentara pengawal / agen sewaan , dsb.

.

Kebanyakan orang mungkin menganggap film Mission Impossible fiktif belaka. Namun, sesungguhnya, sejumlah Negara besar memiliki banyak catatan dan agenda tentang misi-misi penting yang mustahil dilakukan, tetapi toh harus dan bisa dilakukan.

Sebagai contoh, mari simak kembali skandal penjualan senjata Iran-Contra yang dikendalikan petinggi militer AS pada 1986. Alih-alih untuk membebaskan 52 karyawan kedubes AS di Teheran, Iran; dinas Intelijen CIA menawarkan senjata Anti-Tank kepada Iran. Pemerintah AS sendiri sebelumnya telah melancarkan embargo senjata kepada Iran. Tawaran atau praktik belakang layar ini disebut skandal.

Tawaran itu diterima karena Iran memerlukannya untuk memerangi Irak. Uang hasil penjualan kemudian digunakan untuk mendanai perjuangan gerilyawan Contra untuk menjatuhkan pemerintahan resmi Nikaragua.

Orang dengan kemampuan Marketing biasa tak mungkin bisa mengendalikan operasi penjualan senjata semacam itu. Tetapi tidak untuk Letkol Oliver North, staf Dewan Keamanan Nasional AS. Pengalaman bertugas diberbagai Negara membuatnya sangat lihai menangani misi-misi yang tak biasa. Ia bahkan berhasil mencairkan dana itu dalam bentuk senjata dan terkirim hingga ke belantara Nikaragua, dimana gerilyawan Contra bercokol. Sayangnya, salah seorang Operator Lapangan sewaan CIA, yakni Eugene Hesenfus tertangkap polisi Nikaragua. Dari Hesenfus inilah skandal ini mulai tercium pers.

Skandal hebat ini kian terbuka setelah majalah Ash Shiraa terbitan Lebanon, November 1986, mengungkap pertemuan rahasia pejabat AS dan Iran membicarakan soal penjualan senjata itu. Semula, pemerintah AS membantah habis-habisan seraya memojokkan Oliver North. Namun, skandal tingkat tinggi ini akhirnya “diselesaikan” sendiri oleh presiden Ronald Reagan dengan pengakuan bahwa dirinya mengetahui dan juga menyetujui transaksi tersebut.

Plausible deniability

Skandal Iran-Contra merupakan pelajaran mahal dan aib yang sangat memalukan bagi Gedung Putih. Itu sebabnya tak sedikit pengamat Militer mengatakan; penempatan PMC (Private Military Companies) atau Tentara Bayaran di berbagai Negara dapat menjadi salah satu cara untuk meredam potensi aib serupa yang mungkin dilakukan para perwira militer di luar negeri. Kalau pun kesalahan itu terjadi, pemerintah dapat dengan mudah menyangkalnya.

Pihak-pihak PMC yang kini banyak bertugas di berbagai wilayah konflik seperti; Balkan, Irak, Afghanistan, dan Afrika tak terlalu peduli dengan segala resiko dan konsekuensi yang harus mereka tanggung. Mereka bahkan tak takut kehilangan nyawa, karena sejak awal, mereka telah menyepakati akan menanggung seluruh konsekuensi dari profesi tersebut. Ini juga mereka terima karena mereka sadar dengan kondisi pekerjaan yang menjadi spesialisasi mereka.

Di antara spesialisasi pekerjaan PMC adalah; penyelenggaraan pelatihan tentara/polisi, pengawalan VVIP, pengamanan konvoi kendaraan, analisis Intelijen, perawatan pemeliharaan alat utama sistem senjata, penyiapan markas militer, dan menjadi operator pengiriman logistik militer.

Koran Inggris Guardian menulis; “Kehadiran mereka (PMC) tak lain adalah untuk menggantikan tentara yang telah menciut nyalinya pasca perang Dingin. Tanpa mereka (PMC), kehadiran tentara AS dan Inggris di Irak akan mendapat tekanan begitu besar dari dunia.”

Lahan Dollar

Jika di Irak, AS mengincar minyak, lain lagi yang di incar sejumlah Negara di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Apapun itu, yang pasti, sejak Perang Dingin meluruh pada dasawarsa 1990-an, PMC secara cepat berhasil menjadi perusahaan raksasa multinasional yang sangat disegani dan meraksasa.

Dipulangkannya ribuan tentara AS dan Inggris dari pos-pos luar negeri, bubarnya AB Uni Soviet, dan menggunungnya senjata-senjata yang mereka tinggalkan telah membuat sejumlah Negara di liputi kegentingan. Potensi alam dari negara-negara yang di liputi kegentingan inilah yang selanjutnya diincar banyak Negara berpengaruh dan menjadi lahan dollar bagi PMC-PMC kelas dunia.

Di Kroasia dan Bosnia misalnya, Kellog Brown & Root Services dan MPRI dari AS, antara tahun 1994 hingga 2002, berhasil membawa pulang 300 miliar dollar dari 3.000 kontrak kerja yang mereka dapatkan dari Departemen Pertahanan AS. Bahkan untuk urusan sepele mengawal pejabat-pejabat AS yang diberi tugas mengendalikan bisnis tingkat tinggi di berbagai Negara yang selalu diliputi kegentingan. ialah Blackwater (kini menjadi; Xe Services), berhasil meraup pendapatan hinggan 320 juta sampai satu miliar dollar, juga dari Departemen Pertahanan AS.

Demikianlah, diam-diam PMC memang telah menjadi salah satu perusahaan kelas dunia yang paling sukses dan memikat. Uang tidak saja membanjiri pundi-pundi di perusahaan, tetapi juga pundi-pundi karyawannya. Seorang mantan prajurit kesatuan elite yang bekerja di salah satu PMC misalnya, mengaku terperangah dibayar 14.000 poundsterling tiap bulan. Bagi dia, ini berarti tujuh kali lipat dari gaji bulanan yang ia terima saat masih bekerja di kesatuan militer.

Menurunnya tendensi menyerahkan tugas-tugas seperti itu ke pihak pasukan regular untuk kemudian mengalihkannya ke tangan PMC, juga disebabkan oleh adanya penolakan angkatan bersenjata berbagai Negara untuk mengerahkan pasukannya ke tempat-tempat yang rusuh, yang kerap diwarnai pembunuhan brutal. Perancis dan Inggris misalnya, belakangan selalu menolak permintaan PBB untuk memperkuat UNAMSIL; pasukan penjaga perdamaian untuk Somalia. Mereka enggan menerima kenyataan pasukannya kelak pulang dalam peti mati.

Akhir kata, banyak peran yang dipikul PMC, di satu sisi mereka adalah sebuah perusahaan yang menyediakan jasa pengawalan dan operator instalasi megaproyek. Namun, disisi lain, mereka sesungguhnya tak lebih dari kepanjangan tangan sejumlah Negara besar yang memiliki banyak kepentingan di sejumlah Negara. Di tangan mereka, berbagai kepentingan itu tetap dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Mereka seolah tak sadar bahwa jika eksploitasi Negara-negara yang selalu dirundung konflik terus dilakukan, kelak dunia akan menanggung petaka hebat dari sebuah bahaya global yang disebut sebagai; Dangerously Asymmetrical (Bahaya Asimetrik).

Istilah;

PMC; Private Military Companies / Perusahaan Militer Swasta. Sebutan lain; Mercenary. Dog of War (Tentara Bayaran). Shadow Company (Perusahaan gelap/terselubung), Freedom Fighter (Petarung bebas), Freelance Soldiers.

–          SUMBER; Majalah berjudul; Private Military Companies – Sepak Terjang Tentara Swasta. Terbitan Angkasa Edisi Koleksi No. 66 Tahun 2010Private Military Contractor. Info lengkap kunjungi; www.angkasa-online.com

PMC; Bergelimang uang dan darah

.

(Private Military Companies / Private Security Company) PMC / PSC. *

.

*sebutan lain; tentara bayaran / tentara pengawal / agen sewaan , dsb.

.

Keberaadaan PMC  ternyata telah disinggung oleh filosof asal italia yang juga ahli peperangan, Machiavelli (1469)-(1527). Dalam bukunya yang berjudul; The Prince, Machiavelli mengomentari tentang PMC dengan kata-kata yang pedas. Machiavelli yang juga menulis buku yang kemudian menjadi buku yang terkenal; The Art of War, menggambarkan PMC adalah orang-orang berbahaya dan tidak berguna. Siapa pun yang berusaha membangun kekuasaan berkat dukungan PMC, kekuasaannya pasti tumbang. Pasalnya, PMC tak mempunyai disiplin, tidak terorganisir, terlalu ambisius, sulit dipercaya, hanya berani bertempur jika ada temannya, bersikap pengecut kepada musuh, tidak takut kepada Tuhan, dan tak bisa dipercaya antara satu dengan yang lain. Pernyataan Machiavelli tentang PMC, rupanya masih tetap disambut dengan kesimpulan lembaga pemantau PMC, Global Research yang dipublikasikan pada tanggal 11 Agustus 2009. Pada laporan yang bertajuk; The Real Chessboard and The Profiteers of War yang di tulis oleh Peter Dale Scott, di sana di paparkan bisnis tentang PMC. Scott mengatakan organisasi PMC sebagai suatu lembaga yang bisa member otorisasi dan komitmen kepada tenaga kerjanya untuk menciptakan “pertempuran berdarah”, merupakan representasi sekelompok bandit yang tak terkontrol dan terorganisir berdasar pangkat atau hirarki, serta keberadaannya sangat membahayakan masyarakat luas.

Apakah sepak terjang PMC yang saat ini beroperasi di 50 negara dengan nilai kontrak lebih dari 100 miliar dollar AS memang seperti itu?

Jika melihat pada peristiwa dan kebrutalan para personel PMC yang berlangsung di lapangan, imej buruk mereka rupanya tetap belum berubah. Sebagai contohnya, aksi pembantaian 28 warga Irak yang dilakukan oleh personel Blackwater di lapangan Al Nisour Square, Baghdad (16 September 2007) atau pembunuhan sejumlah warga Irak dalam bentrokan tak seimbang di Green Zone pada akhir 2006, memang masih mencerminkan kebobrokan moral PMC. Atau para personel Triple Canopy yang membuat pusing para petingginya dan juga pemerintahan AS, karena mereka memiliki prinsip minimal membunuh satu orang warga Irak sebelum mereka pulang, akibatnya para petinggi Triple Canopy buru-buru memulangkan semua personelnya dari Irak sebelum pameo mereka berwujud menjadi ladang pembantaian. Doktrin “harus membunuh” itu setidaknya memang masih mencerminkan bahwa personel PMC masih sangat berbahaya.

Pengontrol PMC

Lagi-lagi, muncul pernyataan negatif akibat sikap Blackwater yang seolah kebal hukum dan merasa memiliki izin membunuh yang legal. Dalam bukunya, Blackwater; The Rise of The World’s Most Powerfull Mercenary Army, Jeremy Scahill mengatakan PMC adalah pembunuh profesional dunia yang beroperasi tanpa takut kepada konsekuensi hukum, tapi sekaligus masih merupakan kekuatan yang paling diminati, khususnya di medan tempur yang diciptakan oleh AS. Tapi petinggi Blackwater bukannya tidak mengubris reaksi IPOA dan BAPSC serta komentar negative yang terus bermunculan. Untuk meredam imej buruknya dan prasangka buruk itu, nama Blackwater pun diubah menjadi Xe. Namun, nama baru itu ternyata tak mampu mengubah perilaku para personelnya karena Xe tetap saja melakukan kebrutalan di lapangan dan juga melakukan tindakan di luar hukum.

Terlepas dari imej buruk para personel PMC di lapangan, kenyataannya keberadaan mereka justru makin dibutuhkan dan lembaga penyedia PMC pun terus bertambah hingga lebih dari 60 institusi. Pemicu meledaknya bisnis PMC adalah peristiwa 9 September 2002 disusul Perang Irak (sejak 2003) dan ditambah oleh “fatwa” Presiden AS George Bush yang memberikan izin membunuh, License to kill, bagi pasukan AS serta PMC yang bertugas dalam misi “perang melawan terorisme”.

Pentagon rupanya tak hanya sekedar menyewa tenaga PMC, tetapi juga mengaturnya sehingga muncul semacam doktrin bahwa PMC memang harus ada di medan perang. Akibatnya, kehadiran PMC di lapangan, terutama yang sedang “digarap” oleh AS, terus mengalir deras. Jika pada 2003 di Irak hanya ada 3.000 PMC, tahun 2009, sesuai data yang dikeluarkan Departemen Pertahanan AS, jumlah personel PMC di Irak telah mengalami lonjakan yang luar biasa, yaitu sekitar 250.000 personel atau merupakan kekuatan kedua terbesar setelah pasukan reguler AS. Sementara jumlah PMC di Afghanistan juga mengalami kenaikan yang tak kalah luar biasa dibandingkan di Irak, dilaporkan oleh lembaga Congressional Research Service (CRS), jumlah personel PMC yang berada di Afghanistan mencapai 104.000 personel.

Untuk mengendalikan ratusan ribu personel PMC tersebut, masing-masing institusi tersebut memang telah berusaha membuat aturan yang harus di patuhi. Tapi karena semua personel PMC adalah mantan anggota militer yang cenderung merindukan peperangan dan di persenjatai serta selalu bekerja di bawah tekanan, mereka jadi lebih mudah menarik picu senjata untuk menembak.

Apalagi saat di tengah-tengah medan tempur, musuh justru lebih suka menyergap PMC secara tiba-tiba. Para resistan rupanya juga punya taktik khusus, lebih mudah menyergap dan membunuh personel PMC dibandingkan membunuh anggota militer reguler. Akibatnya bisnis PMC ini menjadi bisnis yang benar-benar “berdarah-darah”, baik darah yang ditumpahkan personel PMC maupun darah yang keluar dari para korbannya. Sedikitnya 1.327 personel PMC telah tewas di Irak. Namun tetap saja PMC merupakan profesi yang di buru mengingat nilai uangnya yang di hasilkan, dan juga merupakan salah satu bisnis yang menggiurkan.

(untuk mengetahui lebih jauh tentang PMC, baca juga bacaan dengan judul; Sepak terjang Tentara Bayaran).

SUMBER; Majalah berjudul; Private Military Companies – Sepak Terjang Tentara Swasta. Terbitan Angkasa Edisi Koleksi No. 66 Tahun 2010Private Military Contractor. Info lengkap kunjungi; www.angkasa-online.com

 

Sepenggal kisah pengawalan Presiden Afghanistan

.

Sebagai Presiden Afghanistan yang secara politis merupakan pemerintahan boneka AS, Hamid Karzai memiliki banyak musuh yang ingin menghabisi nyawanya. Selain pejuang Taliban yang bekerjasama dengan Al Qaeda, para panglima lokal yang berasal dari suku berbeda juga turut mengincar nyawa Presiden Karzai. System pengamanan yang ketat dan professional pun kemudian dibentuk sehingga keamanan Presiden Karzai terjamin. Pada awalnya, yang bertugas menjaga Presiden Karzai demi menjamin keamanan dan keselamatannya adalah pasukan lokal yang telah dilatih oleh Tentara AS. Pasukan pengawal lokal ini haruslah memiliki syarat mutlak, yakni satu suku dengan Presiden Karzai, yaitu suku Pashtun.

Meskipun sudah dijaga oleh pasukan pengawal yang setia dan berasal dari satu suku, Presiden Karzai toh masih merasa khawatir karena pasukan pengawalnya bisa disusupi oleh pembunuh yang berpura-pura setia sebagai pasukan pengawal presiden. Presiden Karzai lalu meminta kepada pemerintah AS untuk member jaminan keamanan yang bukan berasal dari pasukan reguler Afghanistan tapi dari pasukan AS sendiri. Permintaan Presiden Karzai langsung di tanggapi oleh militer AS dengan membentuk pengawal Joint Special Operations Command (JSOC) yang personelnya terdiri dari pasukan Anti-Teror dan berasal dari SEAL Team Six (ST6) atau lebih dikenal sebagai DEVGRU. Pasukan khusus yang sudah teruji kemampuannya itu mulai mengawal Presiden Karzai sejak 2 Juni 2002.

Teknik pengawalan SEAL yang diterapkan kepada Presiden Karzai sama dengan ketika mereka sedang mengawal para jenderal AS semasa berkunjung ke Afghanistan. Apa yang dilakukan SEAL dalam mengawal Presiden Karzai memang mengesankan sistem pengamanan yang ketat dan berwibawa. Tapi sistem pengawalan Presiden Afghanistan yang di dominasi oleh personel AS itu ternyata membuat kesal musuh-musuh Presiden Karzai. Pasukan dari suku Pashtun yang selama ini setia mengawal Presiden Karzai turut tersinggung. Rakyat Afghanistan dari suku-suku non Pashtun yang selama ini bertempur berdasar keyakinan jihad mereka merasa diremehkan. Akibatnya mereka justru lebih bergairah untuk melancarkan serangan sekaligus membuktikan bahwa pengawalan yang dilaksanakan oleh SEAL bisa dibobol.

Upaya untuk membunuh Presiden Karzai pun mulai dilancarkan. Pada September 2002, Karzai yang dikawal oleh SEAL menghadiri acara pernikahan adik bungsunya di kawasan yang terkenal rawan, yaitu di Kandahar. Tiba di rumah adiknya, lokasi sekitar sudah disterilkan oleh pasukan pengawal presiden lokal baik yang berseragam maupun yang berpakaian preman. Hadir pula dalam acara pernikahan itu gubernur setempat Gubernur Gul Sherzai yang kemudian mendampingi presiden Karzai. Setelah acara usai di bawah penjagaan ketat pasukan pengawal,Karzai bersama gubernur Sherzai meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki untuk selanjutnya menaiki mobil SUV buatan AS.

Tiba-tiba salah satu pengawal berpakaian preman mencabut pistol Makarov kaliber 9mm berpeluru 18 butir, dan menembakkan kearah Presiden Karzai. Sekitar delapan letusan tembakan terdengar sehingga membuat para pengawal SEAL langsung bereaksi. Penembak yang kemudian diketahui merupakan rekrutmen baru itu, dicoba dilumpuhkan oleh penjaga took yang masih berusia 23 tahun dengan dibantu oleh seorang pemuda lainnya. Melihat pergumulan dan mengetahui asal tembakan dari arah ketiga orang itu, SEAL yang terlatih membunuh dalam pertempuran jarak dekat langsung memuntahkan peluru M4 ke arah mereka hingga ketiganya tewas. Presiden Karzai selamat dari upaya percobaan pembunuhan itu, akan tetapi tewasnya dua pemuda tak bersalah akibat tembakan SEAL mengguncang seluruh negeri. Apalagi tindakan kedua pemuda itu justru ingin melumpuhkan penembak Presiden Karzai.

Pengawal Karzai

Selama dua bulan bertugas di Kabul (Juli-Agustus 2002), Craige berhasil menghimpun tenaga PMC (Private Military Companies) atau disebut sebagai Dog of War (Tentara bayaran) sebanyak 39 personel yang kemudian bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden Karzai. Pasukan pengawal Presiden Karzai yang kali ini dipimpin oleh Craig masih didominasi oleh mantan anggota SEAL sebanyak 70% dan sisanya terdiri dari mantan anggota pasukan khusus (Special Forces) serta sejumlah veteran polisi. Biaya yang dikeluarkan Presiden Karzai untuk menyewa PMC dari DynCorp cukup besar; sekitar 50 juta dollar AS.

Tantangan PMC yang bertugas menjaga keamanan dan keselamatan Presiden Karzai kian berat. Apalagi ancaman yang dihadapi sangat beragam mulai dari sniper, bom mobil, bom berpengendali jarak jauh, hingga rudal. Setiap Presiden Karzai keluar dari Istana Presiden, ancaman maut siap menghadang. Semua kendaraan yang bergerak merupakan ancaman bom mobil. Demikian pula setiap sudut jalan, bisa-bisa sudah disusupi penembak mahir yang mengancam. Akibat kondisi keselamatan yang begitu terancam. Presiden Karzai sampai menderita Paranoid.

Super Ketat

.

Karena selalu dijaga superketat dalam setiap pertemuan yang melibatkan orang-orang penting, para pengawal yang berada di sekelilingnya juga turut mendengar pembicaraan Presiden Karzai, termasuk yang bersifat rahasia. Selama berkuasa, Presiden Karzai paling tidak telah bertemu dengan upaya percobaan pembunuhan. Yang pertama, yaitu terjadi pada 5 September 2002 yang mengakibatkan 3 orang tewas, 1 personel Special Forces terluka, dan Gubernur Gul Agha terluka parah. Upaya pembunuhan kedua terjadi pada 16 September 2004, saat Presiden Karzai menumpang Helikopter menuju kawasan konflik Gardez yang lokasinya dekat perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Guna keperluan kampanye politik ke Gardez itu, kekuatan udara yang dikerahkan terdiri dari dua Chinook dan dua Apache. Presiden Karzai yang menumpang salah satu Chinook yang dikawal oleh PMC yang dipimpin sendiri oleh Craig. Saat konvoi helikopter Karzai mendekati Gardez, Craig menyapukan pandangannya ke bawah dan melihat penduduk Gardez berduyun-duyun keluar dari rumah mereka. Craig segera menelepon para pengawal yang berada di Gardez untuk menyiapkan para sniper. Chinook pertama yang mengangkut sejumlah wartawan mendarat sementara Heli Chinook yang ditumpangi Presiden Karzai mulai melakukan persiapan mendarat. Dua Apache yang bertugas mengawal terbang di samping kiri dan kanan Chinook dan kedua pilotnya bersiaga penuh. Saat Heli Presiden Karzai bersiap mendarat, para pengawal di bawah segera menyiapkan mobil penjemput dan membentuk formasi pengamanan diamond.

Situasi sangat tegang karena penduduk yang berkerumun makin banyak dan mulai tak terkendali apalagi mulai tampak senapan AK-47 diacung-acungkan ke udara oleh sejumlah warga. Tiba-tiba sebuah roket melesat di atas Chinook dan membuat semua penumpangnya panik. Pilot Chinook dan dua pilot Apache segera melakukan maneuver menghindar. Terdengar rentetan tembakan di bawah dan tembakan itu ternyata ditujukan kepada mobil penjemput Presiden Karzai. Craig yang mendapat laporan bahwa roket yang ditembakkan kemungkinan rudal SAM, yakin tak akan bisa lolos dan ia hanya bisa memerintahkan semua penumpang Heli termasuk presiden Karzai segera memasang sabuk pengaman dan bersiap menghadapi benturan dari sergapan roket. Namun, lesatan roket ternyata tidak mengenai sasaran dan semua Heli berhasil selamat di Gardez. Tapi penyerang yang nyaris menewaskan Presiden Karzai dan sejumlah personel PMC berhasil lolos dari kejaran pasukan pengawal.

 

Upaya pembunuhan ketiga berlangsung pada 10 Juni 2007, ketika rombongan Presiden Karzai ke kota tua Ghazni. Pada kesempatan itu Presiden Karzai berpidato dihadapan para sesepuh kota Ghazni. Belum usai Karzai berpidato, puluhan roket yang di tembakkan Taliban beterbangan di seputar lokasi acara dan jatuh meledak. Sebuah roket yang jatuh, meledak sekitar 200 meter dari podium tempat presiden Karzai berpidato. Meskipun situasi hiruk-pikuk dan massa yang berkumpul berlarian tak karuan menghindari ledakan roket, Presiden Karzai baru diamankan PMC setelah usai berpidato. Sekali lagi, Karzai lolos dari upaya pembunuhan yang dilakukan dengan persenjataan yang diluncurkan dari jarak jauh.

.

.

Pada 27 April 2008, presiden Karzai kembali mendapat serangan mematikan saat menghadiri acara parade militer di pusat kota Kabul. Pada acara itu, mimbar tempat duduk Presiden Karzai beserta para petinggi Afghanistan berikut para diplomat asing dan pejabat lain yang hadir, dihujani tembakan senjata otomatis dan RPG oleh para pejuang Taliban yang berhasil menyusup ke lokasi acara parade. Tembakan gencar dari Taliban dib alas oleh pasukan pengawal Presiden sehingga menimbulkan baku tembak sengit dan jatuhnya korban akibat peluru nyasar. Acara parade pun kacau-balau dan Presiden Karzai yang terluka sekali lagi berhasil diselamatkan oleh para pengawalnya yang mayoritas terdiri dari PMC. Akibat serangan itu 3 orang warga sipil yang terdiri dari anggota parlemen, seorang anak perempuan berumur 10 tahun, dan seorang kepala suku tewas serta 10 orang lainnya terluka. Yang pasti, kendati sering lolos dari upaya percobaan pembunuhan, Hamid Karzai tetap merasa selalu khawatir akan keselamatannya dan makin banyak membutuhkan para pengawal PMC.

.

.

.

–          PMC; Private Military Companies / Perusahaan Militer Swasta. Sebutan lain; Mercenary. Dog of War (Tentara Bayaran). Shadow Company (Perusahaan gelap/terselubung), Freedom Fighter (Petarung bebas), Freelance Soldiers.

–          RPG; sejenis senjata pelontar mortir, mirip Bazooka. Senjata berat, (yang harus ditenteng di pundak saat menembak).

–          SEAL; pasukan khusus AS